Thursday, January 13, 2011

Berbagai Macam Jenis Piano

Piano hadir  dalam berbagai macam gaya, desain, bentuk dan ukuran. Piano memiliki dua kategori dasar: piano vertikal dan horisontal.

Vertical Piano – disebut piano vertikal karena tingginya dan posisi senarnya. Tinggi piano ini berkisar antara 36 sampai dengan 60 inci. Ada 4 jenis:
• Spinet – Dengan ketinggian sekitar 36 sampai 38 inci, dan lebar perkiraan 58 inci, spinets adalah piano terkecil. Karena ukurannya itu maka piano ini menjadi pilihan yang popular bagi banyak orang yang tinggal di ruang terbatas seperti apartemen. Salah satu Kelemahan dari spinets adalah memiliki daya dan akurasi yang kurang karena ukuran dan konstruksi.
• Konsol – Agak lebih besar dari spinet, tingginya berkisar 40-43 inci dan lebar sekitar 58 inci. Jenis piano ininhadir dalam berbagai model. Jadi jika kamu ingin melengkapi perabot rumah, konsol memberimu berbagai pilihan ini dibuat untuk menghasilkan nada yang lebih tinggi.
• Studio - Ini adalah jenis piano yang biasanya kamu lihat di sekolah-sekolah musik dan studio musik. Tingginya sekitar 45 sampai 48 inci tdan memiliki lebar sekitar 58 inci. Karena soundboard yang lebih besar dan senar yang panjang, maka bisa menghasilkan kualitas nada yang baik dan panjang.
• Upright - ini adalah Piano yang tertinggi di antara piano vertikal, dengan perkiraan ketinggian mulai dari 50 hingga 60 inci dan lebar 58 inci. Ini adalah jenis piano besar. Jika dirawat dengan baik, bisa mempertahankan nada piano itu sendiri.


Horizontal Piano – Juga dikenal sebagai grand piano. Disebut piano horisontal karena panjangnya dan penempatan stringnya. Grand piano bisa dikatakan menghasilkan nada lebih halus dan memiliki kunci yang paling responsif. Ada 6 tipe dasar dari Piano Horizontal:
• Petite Grand - Ini adalah yang terkecil dari piano horizontal. Ukurannya berkisar dalam ukuran dari 4 kaki 5 inci sampai 4 kaki 10 inci. Hal ini memang kecil tapi masih kuat.
• Baby Grand – Jenis yang sangat popular yang ukurannya berkisar antara 4 kaki 11 inci sampai 5 kaki 6 inci. Baby grand merupakan pilihan populer karena kualitas suara, dan daya tarik estetika serta keterjangkauannya.
• Medium Grand - Lebih besar dari baby Grand ukurannya sekitar 5 kaki dan 7 inci.
• Parlor Grand - Ukurannya berkisar antar 5 kaki 9 inci sampai 6 kaki 1 inci. Piano grand Parlor juga disebut grand pianonya ruang tamu.
• Semiconcert atau Ballroom – ukurannya lebih besar Grand Parlor, adalah sekitar 6 kaki 2 inci sampai 7 meter.
• Konser Grand - Ukurannya sekitar 9 kaki, yang terbesar dari semua piano grand.

Friday, January 7, 2011

Caffeine

Caffeine adalah grup band Indonesia yang didirikan di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1996 dengan digawangi oleh Rudy, Benny, Danny, Daniel, Yandi, dan Yudi pada formasi awalnya. Setelah meninggalnya Yandi, posisinya digantikan oleh Gagan. Namun, band ini harus mengalami pergantian personel lagi. Personel Caffeine yang baru bergabung, Gagan resmi mengajukan untuk mengundurkan diri. Dan kini, Caffeine memiliki basis baru, yaitu Alamsyah.

Album
  1. Hijau (2000)
  2. Yang Tak Terlupakan (2002)
  3. Di Telinga dan Di Mataku (2003)
  4. The Best Of Caffeine (2004)
  5. Trilogi of Caffeine (2009)

Friday, November 19, 2010

Ciri-ciri Persamaan Scale

Bagi pemula terkadang melupakan hal-hal penting dalam belajar. Sebenarnya blues scale selalu mempunyai pola yang sama. Teori ini menjelaskan ciri-ciri blues scale pada masing-masing root atau blues scale pada kunci lainnya. Dalam materi Blues Scale A yaitu pada fret ke V (Bar chord A).
Coba perhatikan pola atau pattern pada fret board III atau bar chord G. Polanya sama dengan pola blues scale A cuma berpindah tempat pada posisi III / G.
Blues scale di G Demikian pula dengan bar chord E pada fret ke XII
Coba chord yang lain di sembarang fret.
Jadi di manapun root atau nada dasar lagu maka blues scale selalu mempunyai pola yang sama. Karena bar chord dalam seluruh fret gitar mempunyai chord dari kunci A sampai dengan kunci G. Dengan teori ini coba cari posisi lainnya pada sepanjang fret untuk masing-masing kunci.
Kalau sudah paham di luar kepala pola pada blues scale A (saya menyarankan untuk melatih posisi A karena mempunyai jangkauan paling lengkap pada sepanjang fret) maka mudah mencari posisi scale pada seluruh bidang fret untuk chord lain karena posisi maju dan mundur pada fret sama polanya seperti pada contoh pola blues scale di bar chord A.
Tips: Jangan menyerah dulu ini cuma masalah motivasi saja. Investasikan waktu untuk belajar scale. Dengarkan nada yang keluar sekalian melatih earring. Yang penting benar dulu speed bisa dilatih kalau nada sudah benar.

Thursday, November 11, 2010

Teori Senar Gitar

Teori Persamaan untuk frekuensi senar gitar :

Hukum Fisika dari senar gitar sangat kompleks, namun teori dasar ini cukup mudah. Titik awalnya adalah bahwa frekuensi dasar getaran string berbanding terbalik dengan panjangnya dan berbanding lurus dengan akar kuadrat dari ketegangan. Frekuensi ini juga berbanding terbalik dengan akar kuadrat massa per satuan panjang.

Jadi frekuensi yang akan bunyi saat Anda memetik string gitar adalah kombinasi dari ketiga sifat – panjang, ketegangan dan massa.

Sangat mudah untuk melihat bahwa ketika menekan fret pada string gitar apapun pada kedua belas fret maka anda mengurangi separuh panjang string. Seperti frekuensi berbanding terbalik dengan panjang, frekuensi adalah dua kali lipat dari memainkan oktaf.

Jika panjang fret string disingkat maka rumusnya adalah L [1 - 1 / (2 ^ 1 / 12)] untuk setiap fret yang naik ke fretboard, dimana L adalah panjang string pada fret akhir. Persamaan ini disederhanakan untuk L/17.817. Hal ini diperoleh dengan menentukan bahwa interval semi / tone, atau hubungan antara dua dari dua belas catatan yang menciptakan skala bermacam-macam, rumusnya adalah 2 ^ 12. Dengan menerapkan system ini untuk kita sendiri, setelah 12 kali panjang string dibagi dua pada kedua belas fret dan kita mendapatkan oktaf di frekuensi string yang kedua.

Frekuensi untuk skala yang sama di Konser Pitch dengan rumusan A4 = 440 Hz

1 String = E = 329.63Hz
2 String = B = 246.94Hz
3 String = G = 196.00Hz
4 String = D = 146.83Hz
5 String = A = 110.00Hz
6 String = E = 82.41Hz

Thursday, October 21, 2010

ASAL USUL MUSIK

Di manapun kita berada, kita bias mendengar musik dari berbagai aliran, tetapi pernahkah tersirat dalam pikiran Anda pertanyaan, bagaimana asal usulnya dari Notasi Musik tersebut? Apalagi lagu-lagu Natal, di seluruh dunia manusia dapat menikmati lagu yang sama dengan melodi yang sama.

Di Ugarit ditemukan beberapa tulisan persegi (dari th 1400 sM) yang menyanyikan lagu-lagu dalam Bahasa Huri, disertai sejenis notasi, tetapi tidak berhasil untuk ditiru atau dinyanyikan ulang.

Begitu juga tidak ada kepastian apakah bangsa Ibrani mempunyai suatu sistem notasi, memang telah diusahakan untuk menafsirkan tanda-tanda tekanan suara dari naskah Ibrani, sebagai bentuk notasi, tetapi ternyata tidak berhasil, sebab tanda-tanda tekanan suara itu lebih diperuntukan untuk mengucapkan daripada untuk musik, disamping itu tanda-tanda tersebut merupakan tambahan yang dibuat dari karya aslinya.

Dengan tidak adanya notasi musik yang dibakukan ataupun yang bisa ditulis, kita tidak akan bisa menyebarluaskan satu karya musik ataupun mewariskannya ke generasi penerus. Karena adanya notasi musik inilah, maka hingga saat ini kita masih bisa tetap menikmati hasil karya dari Bach, Mozart maupun Beethoven.

Siapa sebenarnya pencetus ide dari notasi musik barat modern seperti yang kita kenal sekarang ini? Pada abad ke sebelas (995-1050) seorang rahib dari ordo Benediktin yang bernama Guido dari Arezzo berusaha mengajarkan kepada siswa-siswinya untuk menghafal nada-nada dari c-d-e-f-g-a. Karena ia sudah hafal dan sudah akrab di telinganya dengan "Ut Queant Laxis", lagu Kristen mengenai Rasul Yohanes, maka ia menciptakan alat mnemonis:

UT – queant laxis
RE – sonare fibris
MI – re gestorum
FA – muli tuorum
SOL – ve pollutis
LA – biis reatum
Sancte Iohannes

Suku kata asli dari kata-kata keenam ungkapan ini telah bisa dijadikan nama nada: ut, te, mi, fa, sol, la. Hingga saat ini kita masih menggunakan sistem ini, hanya untuk kata UT telah dirubah menjadi DO dan setelah La masih ada tambahan Si.

Guido dari Arezzo inilah yang membebaskan ketergantungan manusia pada abad sebelumnya dari tradisi oral yang turun temurun diwariskan. Karena adanya nada notasi musik inilah maka umat manusia sekarang ini bisa memiliki harta simpanan yang sangat besar berupa ratusan ribu karya musik mulai dari karya musik yang berat, sampai ke lagu-lagu yang sederhana sampai dengan simfoni-simfoni yang rumit.

Melalui notasi ini pulalah, musik mulai bisa ditulis dan diajarkan dari lembaran musik, teori musik pun bisa diikuti melalui notasi dengan mana lebih mudah untuk mempelajari sebuah lagu maupun intrument dari musik, dan mulai saat itu pula polifoni (lebih dari satu irama yang bisa dimainkan bersamaan) begitu juga dengan menciptakan keharmonian dalam nada musik maupun lagu.

Dari sekolah Notre Dame di Paris terciptakan motet. Motet adalah awal harmoni empat bagian soprano, alto, tenor dan bas. John C Hatton yang hidup diabad ke 18 (?-1793) telah menciptakan satu melodi yang lebih dikenal dengan nama "Duke Street", berdasarkan nama jalan tempat dimana ia tinggal di St Helen - Inggris. Ternyata melodi ini menjadi sedemikian populernya, sehingga bisa dinilai merupakan melodi yang paling banyak digunakan untuk menciptakan lagu pujian rohani.